270608.Ternyata...imajinasi yang sempat bermain di kepala saat pindah dari Jakarta untuk hidup lebih santai di Yogya tidak sepenuhnya menjadi kenyataan... Wuih..namanya pekerjaan tak akan ada hentinya... tapi toh ketenangan sempat terasa saat polusi dan hiruk pikuk Jakarta tidak lagi menjadi makanan sehari-hari. Upaya untuk menenangkan pikiran saat load otak tak mampu lagi untuk menampung lalu
lintas yang cukup semrawut dalam kepala, akhirnya menjadi prioritas utama yang jika tidak dilakukan...konsentrasi bakal bertambah buyar...maka dari itu....jalan-jalan sejenak menikmati festival kesenian yogyakarta adalah suatu keharusan. Kapan lagi menikmati pertunjukan kebudayaan yang terbilang lengkap dan
gratis pula (karena banyaknya sponsor yang masuk) ? Jogja ternyata masih sanggup menghadirkan nuansa kesenian yang kental di tengah-tengah arus jaman yang makin menggila. Sebagai salah kota tujuan wisata di Indonesia, Jogja telah membuktikan bahwa berkesenian sudah mengalir deras hingga urat nadi masayarakatnya bahkan menular kepada para pendatang. Keanekaragaman Budaya, Agama dan Latar Belakanag para pendatang yang justru semakin banyak menyesaki kota Jogja tidak mampu meruntuhkan
kesatuan yang sudah tercipta. Indah banget lho... Program dalam Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XX 2008 menurut -aku yang orang awam- sangatlah sukses. Dengan mengambil tema "The Past is New: Masa Lalu Selalu Baru, Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) XX 2008 yang telah digelar sudah membuktikan : masa lalu memang pegang peranan penting dalam membentuk masa depan masyarakat dan bangsa. Program yang berlangsung dari 7 Juni sampai dengan 7 Agustus 2008 ini dipenuhi dengan kegiatan Pasar Raya FKY, Bursa Seni Visual "Jogja Art Fair", Babad Kampung, Program Internasional, serta
Pentas Teater "Deleilah, Tak Ingin Pulang dari Pesta" (sayang aku ndak sempet nonton yang satu ini...) . Yang paling unik adalah program Babad Kampung yaitu program berkesenian yang melibatkan 9 kampung di Jogja : Pajeksan, Pandeyan, Suryawijayan, Minggiran, Mergangsan Kidul, Kricak Kidul, Samirono, Dolahan-Kotagede, dan Tukangan, dimana para wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menikmati hangatnya pergaulan orang-orang Jogja yang lebih sering "srawung" , dapat berkunjung ke kampung-kampung tersebut sekaligus menikmati pentas kesenian. Kami (aku, Mbak Yuk, Ipar dan ponakan-ponakan ku yang lucu sekaligus mengesalkan kalau sudah
pada teriak-teriak kecapekan) cukup lelah berjalan menikmati aura berkeseniannya orang jogja, sampai-sampai keinginan buat cari info nonton tari ramayana jadi urung...Sayaang....waktu 1 minggu serasa sempit dan tidak sanggup menikmati program yang 2 bulan lamanya tersebut. Wis seing penting sempet mejeng di gallery senin yang lukisannya keren-kerenm abisss!!!!) O,
iya...jangan lupa...kalau tahun depan ada acara seperti ini lagi, jangan lupa, tempat-tempat beriktu ini sering digunakan buat pementasan seni. So...ndak usah lihat-lihat pamflet pun mestinya tempat ini jadi prioritas utama JogjaArtFest kapan pun itu : Benteng Vredeburg, Taman Budaya Yogyakarta (TBY), dan Auditorium Lembaga Indonesia Perancis (LIP), dan pusat kesenian lainnya.
Lihat selengkapnya JogjaArtFest

